teringat penjual putu


Waktu pulang kerja, seperti biasa aku menunggu angkot di depan tempat aku kerja. Kulihat ada penjual bakso ‘ting-ting’ lewat. (kenapa disebut bakso ting-ting, karena dia menjajakan baksonya dengan mangkok yang dibunyi-kan dengan sendok jadi terdengar suara ‘ting-ting’ hehehe)  tak seperti biasanya penjual bakso, bapak yang belum terlalu tua itu memikul dagangannya dan berjalan hampir terhuyung-huyung. (penjual bakso pada umumnya kan dorong gerobak atau pake sepeda)
Sebenarnya aku nggak akan menceritakan tentang bapak penjual bakso ini, tapi karena melihat bapak penjual bakso itu, aku jadi teringat percakapan ringan bersama mas Daniel Agus, salah satu teman di youth mobile community tentang penjual kue putu.
Kue putu, kue khas jaman aku balita yang sampai sekarang masih saja dijajakan meski jarang kita menjumpainya. Tidak begitu di daerah rumahku yang masih tergolong pedesaan wkwkwk, tiap hari aku bisa mendengar penjual putu ‘wira-wiri’ di komplek perumahan tempatku tinggal. (dari kejauhan pun, penjual putu bisa diketahui keberadaannya karena selama ia menjajakan dagangannya, ada bunyi-bunyian khas seperti peluit yang akan terdengar)


Kue putu (dari bahasa Jawa, puthu [ IPA: /pu╩łu/]) adalah jenis makanan Indonesia berupa kue yang berisi gula jawa dan parutan kelapa yang berasal dari Kerala, India, dibungkus oleh tepung beras yang dikukus. Kue ini biasanya dikukus dengan diletakkan di dalam tabung bambu dan dijual pada malam hari. Suara khas uap yang keluar dari alat pengukus ini sekaligus menjadi alat promosi bagi pedagang yang berjualan.(dari Wikipedia)

Masalahnya bukan penjual kue putunya yang akan aku bahas di postingan kali ini, hanya untuk sekedar memberikan pandangan tentang kue putu bagi yang belum pernah melihatnya hehehe
Lanjut dari percakapan ringan bersama mas Daniel Agus, ketika itu kita lagi share masalah berbagi berkat buat orang lain. Bahwa hukum tabur tuai itu bener-bener ada.  Share tentang hal-hal sepele yang terkadang kita pun nggak begitu peduli, sebenarnya aku nggak begitu ingat percakapan apa saja yang terjadi saat itu, 


Cuma satu yang kuingat kata-kata mas Daniel Agus “ saat kita melakukan hal sepele, misalnya kita beli kue putu, dua ribu rupiah aja deh, mungkin buat kita itu hal sepele, tapi pernah nggak kita bayangkan sama bapak penjual putu itu, mungkin dua ribu rupiah itu adalah hasilnya dalam satu hari itu, meski kita nggak sadar, kita udah berbagi berkat buat bapak itu, dan suatu saat kita akan mengalami hal yang sama kok, saat kita butuh apa, pasti ada jalan keluar dari orang lain (yang orang lain itu juga nggak sadar telah menolong kita) yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya “


Memang share kecil itu berlalu begitu saja. Tapi kata-kata itu selalu saja aku ingat. Selama ini cara pandangku terhadap para penjual makanan keliling yang sering aku jumpai, itu biasa aja. Hanya seorang penjual makanan keliling. Tak ada perasaan apa-apa saat melihat mereka. Hanya biasa aja. Sekedar ya kalo aku lapar, aku beli dan mereka jual. Just that.
Tapi saat itu jam setengah sepuluh malam. Rintik gerimis menemani malam yang dingin itu. Di rumah hanya ada aku dan adikku. Sedangkan kakakku tidur di rumah orang tuaku (pada saat itu lagi gencar-gencarnya siaga 1, banjir mengancam solo, makanya kakakku tidur di rumah orang tuaku, yang termasuk daerah rawan banjir)
Saat itu akupun tidak bisa tidur, masih nonton tivi seraya menunggu penjual wedang ronde yang biasa lewat di komplekku jam segini. Tiba-tiba suara khas penjual kue putu mulai terdengar. Hmm, malam-malam gini masih aja penjual kue putu. Pengen makan lagi, suara hatiku mulai berbisik. Dasar perut karung, keinginan makanpun mulai menggeliat dalam otakku. Segera saja aku melangkah keluar, dalam gerimis, kupanggil tukang putu itu., penjual kue putu itupun mendekat. Kulihat penjual kue putu itu seorang bapak yang sudah tua, yang kira-kira berumur enam puluh tahunan, yang mestinya udah nggak bekerja lagi, santai-santai di rumah, ‘diopeni’ sama anak cucunya.
Karena tadi aku sudah makan, dan kerasa kenyang, tapi masih pengin memamah biak nih mulut, aku cuma membeli kue putu seharga tiga ribu rupiah. Berarti aku akan mendapat enam kue putu ( satu kue putu seharga 500 rupiah). Dan sang bapak tadi dengan sigapnya membuatkan pesananku. Enam buah kue putu seharga tiga ribu rupiah. Aku nggak akan mendramatisir cara dia membuatkan kue putu, biasa aja, seperti kebanyakan penjual kue putu membuat kue putunya. Tabung bambu dimasuki sagu bercampur tepung beras, dalamnya dikasih gula jawa, ditambah tepung lagi, lalu dikukus. Biasa aja. Dan adegan pembuatan enam kue putu itupun berlangsung cepat, nggak lebih dari lima menit, kue putu udah siap dibungkus.
Dan adegan pembayaran mulai berlangsung. Aku menyerahkan uang lima ribuan kepada bapak itu. Dan bapak itupun menerimanya dengan senyum. Berarti, kalo uangku lima ribuan, ada kembalian dua ribu rupiah yang akan aku terima. Dan benar, bapak itu segera membuka kotak tempat dia menyimpan uang hasil dagangannya. Dan apa yang kulihat benar-benar menohok jantungku. Didalamnya hanya ada uang recehan duaratusan dan seratusan rupiah yang jumlahnya tepat dua ribu rupiah. “wah pas ya mbak, dua ribu rupiah. Tapi recehan semua” ujar bapak itu setelah menghitung recehan tersebut sambil terkekeh. Aku hanya tersenyum, dan adegan itu berlalu begitu saja. Bapak tua itupun juga berlalu.
Tiba-tiba kata-kata mas Daniel Agus mulai menari-nari dipikiranku. Bayangan bapak tua tadi, yang sampai malam begini (jam setengah sepuluh malam) dalam gerimis dan dingin, yang bisa aku bayangkan, hanya mendapat uang lima ribu rupiah di hari itu, dan DIA MASIH BISA TERSENYUM
Setelah peristiwa itu, cara pandangku terhadap mereka yang berjualan keliling, mulai berubah. Dulu aku yang cuek terhadap hal-hal seperti itu mulai bisa menggunakan nuraniku. okelah, terus bukan dengan cara semua pedagang makanan keliling aku beliin dagangannya, (lha emang aku siapa, anak konglomerat, yang punya banyak duit? hehe) tapi ketika aku punya uang lebih, paling enggak aku mulai bisa ‘sedikit berbagi’ dengan mereka, para penjual makanan keliling.
Akupun mulai bersyukur dengan keadaanku yang sekarang. Memang benar, saat kita mau berbagi dengan orang lain, bener-bener tulus berbagi dengan orang lain (misalnya membeli kue putu yang cuma seharga dua ribu rupiah, atau yang lainnya), Tuhan juga tidak akan tinggal diam kok dengan keadaan kita. DIBERKATI UNTUK JADI BERKAT buat orang lain. Kata mamaku, “dalan banyu kuwi melu teles” (jalan yang dilewati air juga ikut basah) membuatku tambah yakin untuk saling berbagi dengan sesama. Seperti keadaanku sekarang. Aku bersyukur mendapat hidup yang ‘pas-pasan’. (pas butuh, pas ada). Nggak tau juga darimana asalnya, kalo emang aku pas butuh sesuatu, Tuhan pasti sediakan.
Mari kita berbagi dengan orang lain, dan orang lain pasti akan melakukan hal yang sama dalam hidup kita.


Terima kasih buat mas Daniel Agus dan bapak penjual putu yang membukakan 'suatu hal' dalam hidup saya

gambar copas dari sini dan sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar